Jumat, 14 Maret 2014

Dari Bulu Babi ke Afrodisiaka

Indonesia merupakan negara maritime dengan luas lautan mencapai 5,8 juta km2 yang terdiri dari perairan teritorial, perairan laut 12 mil dan perairan ZEE Indonesia. Indonesia juga memiliki 17.504 buah pulau dengan  panjang garis pantai 104.000 km. Karakteristik ini menjadikan Lautan Indonesia merupakan wilayah Marine Mega-Biodiversity terbesar di dunia, memiliki 8.500 species ikan, 555 species rumput laut dan 950 species biota terumbu karang.

Pada umumnya masyarakat Indonesia lebih memilih untuk tinggal di daratan walaupun tidak sedikit pula yang memanfaatkan laut sebagai sumber kehidupan. Tetapi ada sebagian kecil masyarakat yang memilih untuk tinggal dan hidup bersama laut. Mereka adalah suku bajo yang tersebar hampir di seluruh pesisir Indonesia.

Suatu ketika saya pernah berdiskusi dengan salah seorang yunior. Kami mendiskusikan tentang kekayaan biota laut Indonesia. Indonesia memiliki banyak biota laut, namun penelitian dalam bidang itu masih sangat jarang ditemukan. Yunior saya tersebut kemudian tergerak untuk melakukan penelitian tentang bahan alam laut.


Saya suka dengan laut begitu pula yunior saya tersebut. Bak gayung bersambut, diskusi kami pun menjadi seru. Kami kemudian bercerita tentang pengalaman snorkling di kampung masing-masing. Terumbu karang memang selalu menarik untuk diperbincangkan.

Dia kemudian bertanya kepada saya tentang penelitian apa kira-kira yang bisa dilakukan. Saya kemudian teringat dengan cerita dari Prof. Gemini Alam pada saat membawakan materi tentang farmakognosi bahari. Pada sat itu Prof. menjelasakan tentang kebiasaan masyarakat pesisir laut Sulawesi yang mengkonsumsi Bulu babi sebagai obat kuat. Mereka memakan bagian yang putih seperti susu yang terdapat dalam Bulu babi tersebut secara langsung tanpa memasaknya terlebih dahulu.


Saya kemudian menyarankan kepada dia untuk melakukan penelitian tentang uji efek afrodisiaka menggunakan Bulu babi tersebut.

Afrodisiaka itu apa kak ? Tanya dia kepada saya.”

Hal itu mengingatkanku ketika pertama kali mendengar kata afrodisiaka dari pembimbing penelitianku. Pada saat itu saya juga tidak tahu pengertian dari afrodisiaka. Tetapi ketika yuniorku bertanya tentang afrodisiaka, Alhamdulillah saya sudah bisa menjelaskan dengan sejelas-jelasnya.

Saya yakin diantara pembaca juga pasti ada yang masih bingung atau tidak tahu tentang afrodisiaka. Oleh karena itu, pada tulisan kali ini saya akan mencoba berbagi informasi tentang afrodisiaka tersebut. 

Afrodisiaka

Kita semua pasti kenal dengan istilah obat kuat. Secara umum kita dapat mengartikan afrodisiaka tersebut sebagai obat kuat. Tetapi kita juga perlu mengetahui bahwa kata Afrodisiaka itu berasal dari kata Aphrodite dimana dalam mitologi Yunani berarti dewi cinta, kecantikan dan kesetiaan.

Afrodisiaka diartikan sebagai zat atau substansi yang dapat meningkatkan dorongan dan kepuasan seksual berupa makanan, minuman, obat, tindakan serta alat. Selain itu, rangsangan suara (pendengaran), rasa (pengecapan), cahaya, bau dan sentuhan bisa juga dikatakan sebagai afrodisiaka.

Ooo, begitu yah kak. Jawabnya sambil menganggukkan kepala. Kemudian dia bertanya lagi, “Terus, gimana caranya kita meneliti tentang afrodisiaka itu kak ?

Saya menjawab dengan mencontohkan beberapa penelitian yang pernah dilakukan oleh senior-senior di farmasi. Diantaranya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Restu Aristya Ramadhan dengan judul “aktivitas afrodisiaka beberapa ekstrak daun sanrego (Lunasia amara Blanco.) pada mencit (Mus musculus) jantan”. Pada penelitian tersebut menggunakan mencit sebagai hewan coba dan parameter afrodisiaka yang diujikan berupa mounting yaitu naiknya mencit jantan ke mencit betina dan coitus yaitu proses kawin.

Selain mounting dan koitus, masih banyak lagi parameter lain yang bisa diujikan, diantaranya yaitu Introduction, lordosis, latency period, effect on fertility, intromission, ejaculation, dan lain-lain. 

Mengenai parameter-parameter tersebut tidak sempat saya jelaskan kepada dia karena jadwal kuliah yang cukup padat di farmasi sehingga Insya Allah akan saya bahas pada tulisan saya berikutnya.

Dan akhirnya saya kemudian menyarankan kepada dia, jika tertarik meneliti tentang efek afrodisiaka dari bulu babi tersebut maka gunakan parameter ICC saja (Introduction, Climbing, dan Coitus). Kemudian karena masyarakat menggunakan bulu babi tersebut dengan mengknsumsinya secara langsung, maka buatlah dia dalam bentuk jus atau sejenisnya. Selain itu, yang terpenting adalah hindari plagialisme, kita harus memastikan bahwa belum ada yang pernah melakukan penelitian tentang efek afrodisiaka dari bulu babi tersebut.

Satu hal yang mungkin kita tidak sadari bahwa ternyata berdiskusi itu sangatlah mengasikkan. Apalagi yang didiskusikan adalah sesuatu yang menarik dan kita sukai. Oleh karena itu janganlah sungkan-sungkan untuk berdiskusi kepada siapa pun.

Salam hangat dari saya,
Madanosin.


2 komentar:

  1. assalamu alaikum wr wb....saya tertarik dengan ulasan di atas mengenai tanaman sanrego, kebetulan lagi cari2 apakah tanamannya ini masih ada apa tidak, kalo boleh tau temanta dapat sampelnya dr mana, terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumsalam, tanaman sanrego termasuk tanaman endemik sehingga agak sulit di dapat. kata teman saya, tanaman ini bsa didapat di kabupaten bone. tapi hasil rajangannya atau batangnya ada di sekitaran BTP.

      Hapus