Rabu, 31 Agustus 2016

Belajar menulis Al Qur'an


Pada pengajian ahad sore kali ini, 25 Dzulqo'dah 1437 H, santri-santri belajar menulis Al Qur'an dimulai dengan menulis huruf-huruf hijaiyah dengan metode follow the line (mengikuti garis). Ini adalah praktik menulis pertama, sekaligus uji coba meja santrinya dan Alhamdulillah berjalan dengan baik walaupun awalnya mereka duduknya rapi, karna desak-desakan, akhirnya beberapa dari mereka berpencar. Hehe. 
Tenang dek, mejanya bakalan kita tambah.
Kalau sudah lancar huruf hijaiyahnya, kedepan Insya Allah kita akan menulis surat2 pendek. Semangat..!!!
Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk menyuburkan kecintaan mereka terhadap Al Qur'an, karena dengan ini praktis interaksi mereka jadi doubel, yakni membaca dan menulis Al Qur'an. Insya Allah kedepannya bisa hatrik, ditambah dengan mentadaburi ayat-ayat Al Qur'an. Semoga Allah memberikan hidayahnya.
Ada banyak manfaat yg didapat dgn menulis Al Qur'an, diantaranya adalah membentuk akhlak dan jiwa yang sehat dengan melatih kesabaran dan ketelitian dalam menulis Al Qur'an. Membacanya saja sudah menyenangkan apalagi menuliskannya. Ibarat sebuah keindahan, melihatnya saja sudah membuat hati tenang, nyaman, apalah lagi bisa memeluknya, memilikinya atau berinteraksi langsung dengannya. Masya Allah. Maka nikmat Tuhan mana lagi yg kau dustakan.
Semoga Allah Jalla Jalaluh senantiasa memberikan petunjuknya dan menjadikan kegiatan-kegitan kami bermanfaat.

Syukran katsiran kepada sahabat, donator yang sudah membantu kami, semoga menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir hingga hari akhir. Aamiinn.

Madanosin, Sahrul_Madan, Abu Harits Al Buthony

Meja santri & galon air minum


Sekitar 3 minggu bergelut dgn meja santri ini, mulai dari membuat purwarupanya kemudian dilakukan pengujian lapangan tuk mendapatkan ukuran yg pas demi kenyamanan santri dalam belajar. Sekalian mengisi waktu tuk belajar jadi tukang kayu. Hehe

Akhirnya, meja santrinya jadi juga. Semoga bisa memberi manfaat yang sebesar-besarnya tuk mempermudah proses belajar mengajar. Terutama terkait belajar baca-tulis Al Qur'an.

Oh iya, coba sobat perhatikan benda di sudut kiri bawah. Ada galon air & gelasnya. Hehe.

Awalnya, beberapa santri suka beli air mineral di warung, ada yg suka berbagi dgn temannya dan ada juga yg tidak. Jadi, demi kebersamaan & biar tenggorokan lega pas belajar ngaji maka diadakanlah galon air minum ini. Selain santri, galon air ini juga bermanfaat tuk guru ngaji, remaja & jamaah masjid. Hehe

Manfaat lain dari galon ini adalah saya bisa mengajarkan kepada mereka terkait adab-adab dalam minum yang dicontohkan Rosulullah. Misal, saya selalu mengingatkan mereka untuk duduk ketika hendak minum, jangan lupa berdoa dan minum dengan tangan kanan. Masya Allah, Alhamdulillah sejauh ini mereka menurut setiap arahan dari saya. Semoga Allah selalu menjaga mereka dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala.


Syukran jazakumullahu khairan kepada sahabat yg sudah berbagi bersama kami. Insya Allah menjadi amal jariyah yg pahalanya akan terus mengalir hingga hari akhir. Aamiin.
Semoga Allah Ta'ala memudahkan urusannya & dimurahkan rezekynya. Semoga kita selalu berada dalam Rahmat dan hidayah Allah Ta'ala. Aamiin.

Madanosin, Sahrul_Madan, Abu Harits Al Buthony.

Ilon, satpam itikaf


Alhamdulillah, setelah melewati malam ke 29 bulan Ramadhan, maka berakhir pulalah seluruh rangkaian kegiatan itikaf santri TPA bersama remaja masjid Al Wahid Kanakea. Semoga bisa memberikan pengalaman baru serta menambah wawasan mereka bahwa Amalan di bulan Ramadhan tidak hanya puasa saja, tetapi ada juga ibadah itikaf.

Ada banyak momen berkesan selama kegiatan itikaf ini, diantaranya adalah tidur berjamaah di teras masjid ketika hujan, shalat malam bersama, sahur bareng dengan lauk seadanya bahkan terkadang nasinya kurang matang yg menyulut protes dari santri walaupun akhirnya nasi tersebut habis juga, berlomba minum teh panas menjelang imsak, dll. Hehe

Dari semua momen-momen tersebut, ada satu momen yg menurutku cukup berkesan. Momen ketika Ilon mengeluh susah tidur. Ini keduakalinya dia menarik perhatianku tuk membuat tulisan tentangnya. Tulisan pertama tentang dia yg berjudul "Ilon di Ahad sore", kali ini kejadiannya di malam hari, "Ilon, satpam itikaf".

Malam itu, dia menghampiriku yg lagi asik tadarusan. "Kak Ramadan, saya nda bisa tiduree,"
"Kenapa?" Tanyaku,
"Sa sudah biasa saya, kalau jam begini saterbangun, setelah itu susahmi satidur." jawabanya.

"Begitukah, kalo begitu kamu temani saya jaga malam." Saranku bercanda.
"Ok, nanti sajadi satpamnya". Jawabnya tanpa ragu.

Keereenn, akhirnya ada yg temani saya jaga malam. Hehehe, Setelah beberpa jam, tak terdengar lagi suaranya. Ternyata dia sudah tertidur pulas. Hehe. Satpamnya belum lulus uji kebegadangan.

Alhamdulillah, semoga Allah senantiasa menjaga mereka dalam ketaatan kepada Allah jalla wa a'la. Aamiiin,

Madanosin, Sahrul_Madan, Abu Harits Al Buthony

Santriku belajar i'tikaf


Mufti Saudi Arabia, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz dalam Majmu’ Fatawanya berkata, “I’tikaf adalah berdiam di masjid dalam rangka melakukan ketaatan pada Allah Ta’ala baik berdiam lama atau sebentar.

Dengan demikian, menyengajakan diri tuk bermalam di masjid & mengisinya dgn ibadah-ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah bisa dikatakan beritikaf. Wallahu alam.

Subuh, 19 Ramadhan 1437 H, bersama Remaja masjid, kami bermusyawarah terkait pelaksanaan itikaf di Masjid Al Wahid Kanakea. Alhamdulillah, respon mereka sangat baik. Ada yg siap membawa beras, indomi, telur, dll. Masya Allah, semoga Allah senantiasa menjaga mereka dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala.

Setelah berjalan beberapa malam, alhamdulillah jumlah total santri & remas yg ikut itikaf minimal 20 orang permalamnya. Agenda itikafnya antara lain, membaca Al Qur'an, Shalat malam, sahur bersama serta sharing-sharing.

Ada yg menarik di awal-awal itikaf, salah seorang santri menghampiriku kemudian bertanya:

"Ka Ramadan, iyo betul sebentar malam lailatul qadar?" 

Saya hanya tersenyum melihat wajah polosnya, sembari menjawab:

"Belum tahu, makanya kita mau itikaf, biar bisa dapat lailatul qadar" 
"Apa itu itikaf?" tanyanya.
"Itikaf itu kita berdiam diri di masjid, baca Al Qur'an, tidur, sholat malam" jawabku.
"Kalau begitu saya mau ikut den" jawabnya lagi dgn logat khas babau. Hehehe, masya Allah, ajak juga temannya yg lain yah..!!!

Semoga Allah Ta'ala senantiasa menjaga hati mereka selalu terikat dengan masjid. Semoga kegiatan ini bisa memperkenalkan kepada mereka, bahwa di bulan Ramadhan, selain berpuasa ada juga amalan itikaf yg memiliki banyak faedah. Semoga Allah memudahkan pelaksanaan kegiatan ini hingga malam ke 29. Aamiin.

Ternyata itikaf itu seru yah, apalagi kalau bareng mereka, santri-santriku yg kereenn, itikafnya jadi tambah seru dan keereenn.

Madanosin, Sahrul_Madan, Abu Harits Al Buthony 

Solusi dan Curhat ibu guru ngaji.

Foto: Tampak dalam Masjid Raya Baubau

Suatu pagi dibulan Juni, Alhamdulillah, akhirnya saya bertemu juga dengannya, setelah beberapa kali janjian. Saya bersyukur bisa bertemu dengan beliau, seorang Ibu yang penuh inspirasi. Beliau bercerita bahwa, dulu dia senang sekali mengumpulkan anak-anak kecil di sekitar rumahnya untuk diajar mengaji. Katanya, mengajar mengaji membuat hatinya nyaman dan perasaannya tenang. Akh, saya jadi iri melihat ekspresi wajahnya yang teduh ketika menceritakan pengalamannya tersebut. Semoga Allah senantiasa mengaruniakan kesehatan kepada beliau.

Beliau mewakafkan sebuah langgar berukuran 3*7 meter untuk dijadikan Taman Pengajian Al Qur'an. Tidak hanya itu, beliau juga mewakafkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk mengajar secara gratis, semata-mata demi mengharap ridho Allah. Katanya, saat itu jumlah santrinya mencapai 80 orang lebih. Waw, jumlah yang cukup banyak, saya bisa bayangkan betapa ramai dan serunya langgar pengajian TPA beliau saat itu. Satu kata, keereeeennn...!!!

Hanya saja setelah berjalan beberapa lama, beliau diuji dengan penyakit yang di derita oleh orang tuanya yang mengharuskan beliau untuk merawat dan menjaganya. Beliau belum sempat mengkader murid untuk menggantikan beliau. Alhasil, saat ini TPA tidak berjalan lagi. Itulah yang menjadi alasan utama saya ingin sekali bertemu. Insya Allah dengan ilmu dan pengalaman yang Allah berikan, saya akan membantu menghidupkan kembali TPA beliau.

Setelah berdiskusi beberapa lama, saya putuskan, malam harinya saya akan ke rumah beliau untuk meninjau langgar TPA yang katanya butuh perbaikan. Dan Insya Allah, sembari melist problem2 TPA yang bisa diselesaikan, besok malam ba'da maghrib, pengajian perdana di TPA beliau bisa dimulai. Semoga Allah memberikan kemudahan. Aamiinn.

Syukran jazakumullahu katsiran kepada sahabat-sahabatku yang ikut berbagi bersama kami. Semoga Allah membalasnya dgn pahala jariyah. Aamiiin.

Benar, bahwa terkadang solusi itu bisa muncul dari curahan hati. Untung yang curhat ibu-ibu, kalau yang curhat jomblowati, bisa gawat...!!! 
Karena solusinya cuma dua? "Silahkan jawab sendiri". Hehehe

Madanosin, Sahrul_Madan, Abu Harits Al Buthony

Guru Mengaji, Oleh-oleh Terindah dan KSB.


Kemarin, tgl 21 sd. 24 Mei saya mengikuti kegiatan PGM3A yg diadakan oleh BKPRMI. PGM3A adalah singkatan dari Pelatihan Guru Mengaji, Menulis & Memahami Al Qur'an. Ada banyak ilmu, pengalaman & kenalan baru yg saya dapatkan di sana. Semoga Allah memberikan RahmatNya kepada panitia penyelengara. Dan semoga kegiatan seperti ini rutin diadakan.

"Sebaik-baik manusia diantara kalian adalah yang belajar Al Qur'an dan mengajarkannya" (HR. Bukhari)

Saya bersyukur bisa dipertemukan dengan orang-orang hebat yg peduli terhadap pendidikan baca-tulis Al Qur'an. Dengan mengharap ganjaran pahala jariyah dari Allah, mereka mewakafkan waktu, tenaga bahkan materi yg mereka miliki demi mendidik generasi-generasi Qur'ani di masa depan. Semoga Allah memudahkan & merahmati segala urusan mereka.

Ada beberapa problem yg mengemuka pada sesi diskusi kami saat itu, yakni terkait iuran santri. Mayoritas pengajar bersih keras untuk menggratiskan iuran santri dgn alasan menjaga keikhlasan niat, tapi ada juga yg memberlakukan iuran dgn nominal serendah mungkin, kisaran Rp. 10 ribu perbulan untuk menutupi biaya administrasi dan infaq transportasi pengajar. Itupun, hati mereka masih ragu akan ketakutan terganggunya niat ikhlas mereka. Padahal sudah dijelaskan bahwa hal tersebut boleh dalam islam. Yah, seperti itulah perasaan para guru mengaji yg tulus mengadi demi Al Qur'an Kalamullah. Semoga Allah membalas setiap detik pengabdian mereka dgn pahala jariyah. Aamiiin.

Diakhir pelatihan, kami diberikan sertifikat PGM3A sebagai bukti telah mengikuti seluruh rangkaian materi yg disajikan. Sertifikat ini kelak akan bermanfaat, karena ternyata dia menjadi salah satu syarat legalitas Tk-TPA yg ditetapkan oleh Kemenag. Bagiku, ini adalah oleh-oleh terindah untuk KSB (Komunitas Suka Berbagi) karena sangat mendukung program kerja kami yaitu "KSB mengaji" yg item kegiatannya yaitu; Pembinaan TPA, Wakaf Al Qur'an, buku Iqra, dll. Semoga Allah memberikan berkahnya & membalas kebaikan sahabat2 yg sudah membantu program ini.

Terakhir, teruslah memberi manfaat kepada orang lain karena sebaik-baik manusia adalh yg paling bermanfaat bagi org lain.

"Berbagi itu kereenn.!"

Madanosin, Sahrul_Madan, Abu Harits Al Buthony.

Gayung bersambut di PGM3A


"Satu sama lain saling berkaitan dan setiap peristiwa pasti ada hikmahnya"

Kalau biasanya saya mengikuti kegiatan pelatihan dan seminar yang berkaitan dengan dunia farmasi sebagai basic keilmuan saya, kali ini berbeda, di gedung Maedani samping stadion Betoambari, saya dan puluhan peserta lainnya mengikuti kegiatan PGM3A.

PGM3A itu singkatannya ribet, belum lagi kepanjangannya. Intinya Pelatihan Guru Membaca, Menulis & Memahami Al Qur'an yang diadakan oleh BKPRMI. Ini lagi, singkatannya ribet, kepanjangannya cari sendiri saja yah, soalnya istilah-istilah itu semuanya masih asing di telingaku. Klo seperti Asmef, PCT, RAA, I.m.m, Amox, dll saya siap jelaskan sampe ke akar-akarnya walaupun ribetnya bikin ampun. Hehe

Awal februari kemarin, saya memutuskan untuk mengatasi problem anak-anak di lingkunganku yang setiap sore kerjanya keluyuran tidak manfaat dengan mengajak mereka ke masjid tuk belajar baca tulis Al Qur'an. 

Berbekal pengalaman dan ilmu yang seadanya saya berani tuk melakukannya. Hari ini, Sabtu tanggal 21 Mei 2016, gayung bersambut di PGM3A. Semoga ilmu yang didapat dalam pelatihan yang berlangsung hingga tanggal 24 Mei nanti bisa memberi manfaat tuk santri-santriku kelak. Aamiinn.

Semoga Allah memberikan kesehatan, rahmat dan hidayahNya kepada peserta dan panitia. Dan semoga pelatihan ini bisa memberikan perubahan tuk Kota Baubau tercinta.

Rasulullah bersabda: "Sebai-baik manusia di antaramu adalah yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)

Ayo belajar Al Qur'an...!!!

Madanosin, Sahrul_Madan, Abu Harits Al Buthony. 

Santriku terdiam, Imam Malik berkata "saya tidak tahu".


Setiap hari, sebelum dan sesudah mengaji kami selalu membuat lingkaran besar. Ada 6 hal minimal yang dilakukan selama berada dalam lingkaran, salah satunya adalah belajar pengetahuan tentang Islam.

Untuk beberapa pekan ini, materi pertama yang saya ajarkan kepada mereka adalah tentang rukun islam. Dulu, ketika diawal2 mengumpul mereka untuk mengaji, saya bertanya tentang rukun islam, mereka terdiam. Kemudian saya bertanya tentang bacaan syahadat, juga terdiam.

Tetapi kini, ketika saya bertanya tentang kedua hal tersebut, mereka rebutan menjawab, sampe2 ada yang kecewa karna nda ditunjuk. saya hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Semoga Allah membuka pintu hati mereka agar selalu dalam hidayah-Nya. 

Kemarin sore 5 Sya'ban 1437 H, sebelum pulang saya bertanya kepada santri putriku yang jumlahnya 20-an lebih, "Apa itu Islam? Mereka terdiam." Saya kemudian memancing mereka tuk berani berpendapat. Tetiba ada yang berbicara "Agamanya Allah". Sudah benar, tapi masih kurang tepat sahutku. Mereka masih terdiam. Saya pun terdiam. Hehehe. 

Kemudian saya menjelaskan kepada mereka bahwa Islam adalah Agamanya Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai penyempurna ajaran agama sebelumnya. Barulah mereka riuh kembali.

Diam bukanlah sesuatu yang tercela. Berkata "saya tidak tahu" atas perkara yang memang kita tidak punya ilmu tentangnya, bukanlah menjadi standar rendahnya pengetahuan seseorang. Karena Imam Malik rahimallahu Ta'ala, seorang ulama besar, ahli hadis, beliau menjadi rujukan para ulama, beliau faqih dan apa pun yang beliau fatwakan pada masanya akan diikuti, tetapi beliau ketika ditanya tentang perkara yang tidak diketahui, beliau cukup berkata "Saya tidak tahu". Karena seringnya berkata demikian, sampai-sampai para ulama menyimpulkan bahwa perkataan "tidak tahu" adalah bagian dari ilmu itu sendiri. 

Dengan kepolosannya, santri-santriku mengajarkanku satu pelajaran penting tentang "diam". Lebih baik "diam" atau berkata "tidak tahu" tentang perkara yang kita tidak punya ilmu tentangnya daripada sok tahu yang ujungnya bisa menjadi dosa dan awal kerusakan. Wallahualam

Madanosin, Sahrul_Madan, Abu Harits Al Buthiny

Santriku dan Lingkaran Kecil


Saat itu tanggal 4 mei 2016, pukul 4 sore di masjid Al wahid Kanakea Kota Baubau, saya berjumpa kembali dengan santri-santri putriku yang cetar.

Ekspresi mereka saat itu cukup heboh ketika melihatku setelah beberapa minggu tidak mengisi pengajian karena ada urusan di Makassar. Yah, dari sorot matanya tampak rona bahagia dan kerinduan yang dalam. Hehe (just in my opinion)

Satu hal yang membuatku bangga adalah selama kepergianku, ternyata mereka tetap mengaji dengan pola seperti yang sering saya ajarkan. Yaitu, pengajian di awali dengan membuat lingkaran kecil kemudian pembukaan dengan membaca surah Al fatiha, doa belajar, doa kebaikan untuk kedua orangtua, doa kebaikan dunia akhirat, dan bacaan hadis, doa atau surat2 pendek yang saya tugaskan untuk dihafal.

Saya senang sekali mendengar curhatan mereka tentang hal tersebut. Kerajinan dan ketekunan Mereka membuatku bersemangat untuk berbagi ilmu dengan mereka. Semoga Allah menjaga mereka.

Sore hari tanggal 4 mei kemarin, saya membagikan selebaran yang berisi biodata dan jadwal baru. Sebelumnya mereka mengaji setiap hari setiap sore. Tetapi, kemarin jadwalnya saya rubah menjadi 4 kali sepekan yaitu 3 hari mengaji dan 1 hari praktek amalan harian dan games, selang seling dengan santri putra.
Melihat jadwal tersebut spontan membuat mereka protes. Mereka tidak terima, mereka maunya tetap mengaji seperti biasa. Hehe, saya cuman bisa tersenyum melihat omelan mereka. Mungkin mereka tidak bisa kalau tidak bertemu dengan saya sehari saja. Hehe, (just kidding)

Santri-santriku ini luar biasa. Semoga Allah menjaga mereka selalu berada pada jalan yang benar. Saya pasti akan selalu merindukan mereka, santri-santriku dan lingkaran kecil, semoga di kemudian hari bisa menjadi lingkaran besar.

Terakhir, saya mengucapkan Syukran jazakumullahu khairan kepada sahabat yang sudah berbagi bersama kami melalui Komunitas suka berbagi untuk TPA Al Wahid Kanakea. Bantuan sahabat sekalian insya Allah akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir hingga hari akhir nanti. Aamiin

Madanosin, Sahrul_Madan, Abu Harits Al Buthony.

Selasa, 30 Agustus 2016

Ilon di Ahad sore


Sore itu, ketika sedang asyik mengawasi adik-adik santri mengaji dan menyetorkan hafalan, sembari menertibkan mereka yg asyik bermain di luar masjid agar kembali ke kelompoknya, Ilon datang menghampiriku. Dengan wajah berseri-seri dia berkata:

"Kak Ramadan, saya sudah sampai halaman 15..!", masya Allah jawabku, sembari memberi semangat agar rajin mengaji, biar cepat tamat bacaan iqranya.

Kemudian dia bertanya kembali,
"Kak Ramadan, berapa halaman 1 iqra itu, supaya cepat selesai?"
Saya hanya tersenyum mendengarnya sembari berkata, nanti kita hitung yah.

Saya kemudian masuk ke dalam masjid, untuk memantau kembali kegiatan pengajian ahad sore, sembari membagikan kartu kontrol hafalan dan menertibkan adik-adik santri agar tidak bermain.

Tidak lama kemudian, Ilon datang dengan membawa buku iqranya,
"Kak ramadan, saya sudah hitung, 1 jilid iqra itu 36 halaman, jadi totalnya 368 halaman semuanya baru tamat,"
Kembali, dia membuatku tersenyum dengan tingkahnya. Walaupun hitungannya salah, tetapi emangat dan kemauannya yg tinggi membuatku bangga. Semoga Allah, menjaga semangat mereka.

Ada yg menarik dari ilon, dia termasuk santri putra yg rajin. Dengan pakaian yg sederhana, baju kaos oblong yang kadang bolong, pakaian olahraga sekolahnya yg sobek di sekitar bahu, tetapi hal tersebut tidak menyulutkan semangatnya tuk belajar. Mungkin hal tersebut bisa berbeda dengan anak-anak lain seusianya di belahan kota lain. Semoga anak zaman sekarang diberi kemauan yg tinggi oleh Allah tuk belajar agama.

Yah, Pakaian boleh lusuh tetapi semangat belajar tidak boleh luntur. Mungkin itu quote yg saya tangkap dari Ilon. 

Tenang dik, Insya Allah, jika kalian konsisten belajarnya, kita akan bersama-sama menghafalkan Al Qur'an, sehingga Allah menggantikan pakaianmu dengan pakaian surga yg indah di akhirat kelak. Aamiin.

Ilon di Ahad sore menyadarkanku bahwa belajar itu bukan tentang pakaian yg kita gunakan untuk menuntutnya, tetapi semangat yg kita miliki untuk mengejarnya.

Semoga Allah menjaga semangat kita dalam menuntut ilmu.

Syukran jazakumullahu khairan kepada sahabat-sahabat yang sudah berbagi bersama kami. 

Madanosin, Sahrul_Madan, Abu Harits Al Buthony

Arlan yg rajin dan syawal yg cerdas


Arlan adalah namanya. Usianya masih remaja, kelas 1 SMP. Dia adalah satu dari dua orang santri kami yg awal-awal mengikuti pengajian. Ibarat sarang laba-laba, dari mereka berdua, jumlah santri pengajian ba'da maghrib berkembang hingga mencapai lebih dari 25 orang. Alhamdulillah.

Arlan termasuk santri yang rajin dan memiliki kemauan yg tinggi untuk belajar. Sepulang sekolah, sekitar jam 5 sore karena sekolahnya masuk jam 1 siang, dgn pakaian sekolah lengkap bersama tasnya, dia menyapa saya yg sedang mengajar santri putri, "kak, bisa saya ganti pakaian baru datang mengaji?". Melihat ekspresi kesungguhan dan semangatnya yg tinggi, saya tidak sanggup untuk menolak atau sekedar menyampaikan untuk mengaji setiap ba'da magrib saja. Akhirnya, jadilah dia mengaji dua kali sehari. Setiap sore dan ba'da shalat maghrib. Semoga Allah Ta'ala menjaga semangatnya agar istiqomah dalam belajar mengaji.

Awalnya hanya dia saja yg mengaji dua kali sehari, tetapi kemudian temannya yang lain juga ikut, termasuk syawal salah satunya.


Saya ingin cerita sedikit tentang syawal. Kemarin, setelah mengaji sore hari, dia menyetorkan hafalan doa wudhunya. Masya Allah, ternyata sudah dihafalkannya di luar kepala beserta artinya. Setelah menyetor, dia sedikit kecewa karena saya belum memberikan lembaran doa berikutnya untuk dihafalkan. Melihat tingkahnya, saya hanya tersenyum bangga.

Semoga Allah menjaga semangat dan kemampuan menghafal mereka tetap berada di jalan yg benar. Aamiin.
Rajin dan cerdas adalah dua modal besar yang mereka miliki. Apalagi di usia mereka yang masih fresh, jika kedua hal tersebut dimanfaatkan dengan baik, maka akan memberikan hasil yang membanggakan. Semoga Allah menjaga mereka tetap di jalur yg benar.

Aamiin.

Madanosin, Sahrul_Madan, Abu Harits Al Buthony

Senin, 29 Agustus 2016

Guru Ngaji Dadakan


Suatu sore di teras sebuah masjid kecil selepas shalat ashar sembari menunggu kapal feri tiba dari Baubau, saya beristirahat sejenak. Tetiba, ada beberapa anak kecil menghampiri, "kaka, ajar mengaji dolo kah". Sambil tersenyum saya langsung menjawab "Ayok...!!!" Biasanya saya dipanggil om, tapi karna dipanggil kakak semangat saya langsung naik. Hehe

Ketika mengajar mereka, saya jadi teringat santri-santriku di TPA Al Wahid, mereka pasti menungguku sore ini. (Ngarep,). Karna beberapa hal, saya telat pulang. Hehe

Setelah mengajar beberapa santri di masjid kawasan pelabuhan wamengkoli tersebut, saya jadi tambah yakin bahwa untuk mengajar itu butuh metode dan untuk mengetahui metodenya butuh belajar, butuh ilmu.

Ketika hendak mengaji, mereka langsung berbaris mengantri di depanku. Hal tersebut sangat berbeda dengan metode yg saya terapkan di TPA Al Wahid, dimana sebelum mengaji ada lingkaran untuk pembukaan klasik, kemudian mengaji dan terakhir ada lingkaran lagi untuk penutupan. Walau berbeda tetapi sama-sama ingin pintar mengaji. Semoga Allah membukakan pintu hati mereka sehingga mudah dalam belajar mengajinya.

Jadi guru ngaji dadakan di tempat yang asing adalah pengalaman berharga bagiku. Benar bahwa ilmu itu dimanapun dia berada tetap akan bermanfaat jika yang punya ilmu mau mengamalkan.

Insya Allah suatu hari nanti, saya akan ke masjid itu lagi, untuk mengajar mereka mengaji sekaligus memberi sedikit hadiah biar mengajinya lebih semangat lagi. Aamiinn.

Sore hari di pelabuhan feri Wamengkoli, Kabupaten Buton Tengah.

Madanosin, Abu Harits Al Buthony, Sahrul_Madan