Minggu, 25 Mei 2014

Pahlawan Sejati




Ibnul Jauzi berkata, “Jangan sekali-kali kamu tertipu dalam menilai kepahlawanan seorang lelaki dari perilaku-perilakunya dan apa yang kamu lihat dari amal ibadahnya seperti shalat, puasa, sedekah, dan uzlah (mengasingkan diri) dari orang lain.

Sesungguhnya, seorang lelaki yang disebut pahlawan adalah orang yang senantiasa memelihara dua perkara, yakni menjaga aturan-aturan Allah dan senantiasa ikhlas dalam beramal.


Padahal, berapa banyak kita melihat ahli ibadah yang melanggar aturan-aturan Allah dengan melakukan ghibah, perkara-perkara yang tidak diperbolehkan, dan memperturutkan hawa nafsunya. Selain itu, kita juga sering melihat orang yang kita anggap sebagai orang yang taat beragama, tetapi dalam amalnya sering ditujukan kepada selain Allah. Masalah seperti ini bisa bertambah dan berkurang dalam diri seseorang.

Sesungguhnya pahlawan sejati adalah orang yang senantiasa memelihara-aturan-aturan Allah, yakni segala sesuatu yang diwajibkan dan diperintahkan Allah kepadanya. Di samping itu, ia adalah orang yang senantiasa meluruskan niat dan tujuannya sehingga seluruh amal dan perkataannya hanya ditujukan kepada Allah. Ia tidak mempersembahkannya kepada seseorang serta tidak berharap sanjungan dan pujian manusia.

Mungkin dalam hal ini bisa saja ia memaksakan diri untuk senantiasa tersenyum  di hadapan orang lain dan bersikap ramah terhadap mereka. Hal ini agar orang-orang tidak menganggapnya ahli zuhud. Ibnu sirin adalah orang yang suka tertawa pada siang hari. Tetapi, saat malam tiba ia seolah-olah telah membunuh seluruh penduduk negerinya.

Ketahuilah bahwa Zat yang ditujukan kepada-Nya seluruh amalan tidaklah membutuhkan sekutu. Sedangkan orang yang ikhlas ialah orang yang hanya menujukan maksudnya kepada Allah.

Sebaliknya orang yang riya ialah orang yang menjadikan sekutu bagi-Nya supaya ia mendapatkan pujian dari orang lain. Walaupun demikian, semua itu bisa berubah-ubah. Sebab hati mereka berada dalam kekuasaan Zat yang mereka sekutukan. Ia akan membolak-balikkan hatinya kepada kejelekan dan bukan untuk kebaikan.

Sedangkan orang yang diberi taufik Allah ialah orang yang segala interaksi dan perbuatannya, baik lahir maupun batin hanya ditujukan kepada Allah. Orang seperti ini akan dicintai oleh manusia, sekalipun ia tak ambil peduli dengan mereka. Sebagaimana manusia juga akan membenci orang yang bersikap riya’, sekalipun amal ibadahnya kuat dan banyak.
Seorang lelaki yang tersifati dengan beberapa karakteristik ini akan selalu mencari kesempurnaan ilmu dan tak akan pernah puas melaksanakan keutamaan.

Ia akan selalu mengisi dan melalui hari-harinya dengan berbagai kebaikan yang mampu ia kerjakan. Hatinya tak pernah kering dari amal-amal yang hasilnya akan dipetiknya pada hari esok. Sebab ia senantiasa sibuk dengan yang Mahabenar.”

Sumber: Buku Detik-Detik Penuh Makna

Tidak ada komentar:

Posting Komentar