Senin, 10 Februari 2014

Sepenggal Kata Untuk ‘Ungkapan hati yang terdalam’

Suatu waktu di kamar kos yang lumayan kecil dan penuh dengan tumpukan kertas dan buku-buku yang sudah mulai usang. Di kamar itu hanya menyisakan beberapa meter ruang lapang saja untuk merebahkan badan, kira-kira seukuran kasur spon tipis, bagi yang pernah ngekos pasti bisa membayangkan suasananya. Waktu itu hari libur, kondisi kamar sudah tidak memungkinkan untuk beristirahat, sehingga hati yang sudah mulai lelah mendorong raga yang cuek ini untuk membersihkan istana yang sudah mencapai batasnya itu, kalau istilahnya pembawa berita di setiap mudik itu ‘Over kapacity’ atau kelebihan muatan.



Ada banyak kertas, berkas, bungkusan mie, bungkusan permen, dan tidak ada puntung rokok karena saya tidak merokok yang berhasil dijaring pada pagi itu. Beberapa judul buku yang berhasil diselamatkan dari serangan lumut yang dikarenakan kondisi kamar yang lembab. Dari sekian banyak barang yang dirazia, ada beberapa lembar kertas A4 yang menarik perhatianku. Kertas itu menarik karena ada tulisan tanganku menggunakan pensil yang tercoret diatasnya. Bukan sekedar tulisan pensil biasa, tulisan itu bercerita tentang ungkapan hatiku yang terdalam. Ketika menemukan kertas tersebut bibirku secara otomatis melebar, menunujukkan respon senyum tipis malu-malu, terkadang tertawa kecil karena mengingat momen-momen ketika menuliskan sepenggal pengalaman cinta di atasnya.

Kertas A4 tersebut sudah mulai usang dan tulisannya pun hampir tidak terbaca lagi. Tulisan ungkapan hati yang terdalam yang tertulis dikertas itu adalah salah satu bukti dari perjalanan hidupku. Meminjam nasihat dari Sahabat Nabi, Ali bin Abu Thalib, beliau pernah berkata ‘Ikatlah ilmu dengan menuliskannya’, maka tidak ada salahnya jika saya ingin mengabadikan salah satu bukti perjalanan hidupku tersebut dengan menuliskannya juga.

Goresan pensil penuh cinta yang tercoret di atas kertas A4 putih yang usang itu berjudul ‘Ungkapan Hati yang Terdalam’. Bagi anda yang belum pernah merasakan pengalaman ini maka bersyukurlah karena Allah masih melindungimu. Karena sesungguhnya cinta yang sebenarnya atau cinta yang Hakiki itu bukanlah cinta kepada manusia tetapi cinta kepada Sang empunya manusia atau yang memiliki manusia yaitu Cinta Kepada Allah semata. Jadi cintailah wanita/pria itu bukan karena ‘dia’nya tetapi cintailah dia karena Allah. Maka cintamu itu akan kekal dan tak kan lekang dimakan zaman. Terus mekar bahkan abadi seperti cintanya para sahabat kepada Rasulullah, cintanya Rasulullah kepada Khadijah dan masih banyak kisah cinta lainnya. Mungkin saja cinta kedua orang tua kita, saudara, atau cinta dari sahabat-sahabat kita.

Tulisan ‘Ungkapan Hati yang Terdalam’ ini adalah salah satu warna yang pernah mewarnai proses perjalanan hidupku, yang pernah muncuri waktu-waktuku, yang pernah membutakan mataku akan cinta sejati, jadi jangan diikuti cukup dinikmati saja. Jika ingin mendapatkan cinta sejati, maka carilah cinta Allah terlebih dahulu, saya yakin Allah akan memperlihatkan cintanya kepadamu melalui si ‘dia’. Si ‘dia’ yang akan mengisi hari-harimu, yang akan mewarnai kehidupanmu, dan yang akan menemanimu hingga akhir hayatmu. Siapakah ‘dia’? Mintalah kepada Allah disetiap sujudmu disiang atau pun malam untuk mempertemukanmu dengannya.

Insya Allah bersambung ke tulisan ‘UngkapanHati yang Terdalam’. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar